Rasmus Højlund

Rasmus Højlund Yang Masih Mencari Konsistensi Di Old Trafford

Rasmus Højlund, Penyerang Muda Asal Denmark, Datang Ke Manchester United Pada Musim Panas 2023 Dengan Label Harga Besar Sekitar £64 Juta. Harapan publik Old Trafford saat itu jelas: ia diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk lini depan yang selama ini kurang tajam.

Lahir di Copenhagen pada 4 Februari 2003, Højlund memulai karier sepakbolanya di akademi lokal sebelum bergabung dengan FC Copenhagen. Debut profesionalnya terjadi pada usia 17 tahun di musim 2020, dan meski belum mencetak banyak gol, potensinya sudah terlihat jelas. Pada Januari 2022, ia hengkang ke Sturm Graz di Austria dan menunjukkan performa produktif dengan 12 gol dari 21 laga pencapaian yang membuat klub Serie A, Atalanta, tergoda untuk merekrutnya hanya beberapa bulan kemudian. Bersama Atalanta, Højlund semakin matang. Dalam satu musim di Italia, ia mencatat hampir 10 gol di liga. Dengan tinggi badan 1,91 meter, kecepatan, dan kemampuan finishing yang baik, ia mulai mendapat julukan “Haaland dari Denmark” dari media Eropa Rasmus Højlund.

Musim debutnya di Manchester United berlangsung penuh dinamika. Højlund butuh waktu untuk mencetak gol pertamanya di Premier League, namun ia langsung mencatat rekor sebagai pemain termuda MU yang mencetak gol dalam enam laga liga secara beruntun. Di Liga Champions, ia tampil tajam dengan lima gol meski tim gagal melaju dari fase grup. Musim itu ia menutup catatan dengan total 16 gol di semua kompetisi, plus medali juara Piala FA. Memasuki musim 2024/25, performa Højlund mengalami penurunan drastis. Dari 32 penampilan di Premier League, ia hanya mencetak empat gol angka yang memicu kritik tajam mengingat harganya yang mahal Rasmus Højlund.

Langsung Menjadi Sorotan Publik Old Trafford

Sejak bergabung dengan Manchester United pada musim panas 2023, Rasmus Højlund Langsung Menjadi Sorotan Publik Old Trafford. Usianya yang masih sangat muda, 20 tahun saat itu, membuat banyak fans melihatnya sebagai proyek jangka panjang klub. Kedatangannya disambut hangat, dengan banyak suporter membanjiri media sosial klub untuk menyatakan dukungan. Bagi mereka, Højlund bukan hanya pembelian mahal, tetapi juga simbol masa depan lini serang Setan Merah.

Pada awal musim debutnya, hubungan Højlund dengan fans berjalan mesra. Meski butuh waktu untuk mencetak gol di Premier League, para pendukung tetap memberikan tepuk tangan dan yel-yel dukungan di tribun. Mereka terkesan dengan etos kerjanya di lapangan berlari mengejar bola, menekan lawan, dan menunjukkan semangat juang meski belum menghasilkan gol. Momen puncak hubungan ini terjadi ketika ia mencetak gol pertamanya di liga melawan Aston Villa, diikuti rekor enam laga beruntun mencetak gol. Sambutan di Old Trafford saat itu mengingatkan pada masa kejayaan para striker legendaris klub.

Namun, musim keduanya membawa perubahan suasana. Performa Højlund yang menurun hanya empat gol dari 32 laga Premier League sejauh ini mulai memicu rasa frustrasi sebagian fans. Kritik di media sosial meningkat, dengan sebagian menilai ia belum layak menjadi striker utama tim. Meski begitu, sebagian besar suporter di stadion tetap memberinya dorongan, terutama mereka yang memahami bahwa minimnya suplai bola dari lini tengah ikut memengaruhi produktivitasnya.

Hubungan Højlund dengan fans juga diwarnai sikapnya di luar lapangan. Ia dikenal kerap menyapa dan melayani tanda tangan, bahkan setelah pertandingan yang berakhir dengan kekalahan. Gestur sederhana ini membantu mempertahankan rasa kedekatan dengan para pendukung, meskipun kritik tetap ada.

Rasmus Højlund Sudah Mencatatkan Perjalanan Karier Yang Mengesankan

Bagi seorang pemain muda berusia awal 20-an, Rasmus Højlund Sudah Mencatatkan Perjalanan Karier Yang Mengesankan. Dalam waktu singkat, penyerang asal Denmark ini berhasil menapaki jalur dari liga domestik hingga menjadi sorotan di panggung sepakbola Eropa.

Lahir di Copenhagen pada 4 Februari 2003, Højlund memulai kariernya di akademi lokal sebelum debut profesional bersama FC Copenhagen pada usia 17 tahun. Meski awalnya hanya menjadi pemain rotasi, ia berhasil mencetak gol di ajang Eropa untuk klub tersebut pencapaian awal yang memberi sinyal bahwa ia punya insting gol di level internasional.

Kesuksesan awalnya mulai terlihat jelas saat bergabung dengan Sturm Graz di Austria pada Januari 2022. Hanya dalam setengah musim, Højlund mencetak 12 gol dari 21 pertandingan. Statistik itu bukan hanya membuktikan kemampuannya beradaptasi, tetapi juga memperlihatkan kecepatan dan kekuatan fisik yang menjadi ciri khasnya. Penampilan gemilang ini membuat Atalanta dari Serie A menginvestasikan €17 juta untuk membawanya ke Italia.

Di Atalanta, Højlund menunjukkan bahwa performanya di Austria bukan sekadar kebetulan. Meski baru satu musim, ia mampu mencetak hampir 10 gol di liga angka yang solid untuk pemain berusia 19 tahun yang baru pertama kali mencicipi atmosfer salah satu liga paling taktis di dunia. Kemampuannya dalam duel fisik, lari cepat memanfaatkan ruang, dan ketenangan di depan gawang menjadi alasan mengapa banyak klub besar mulai meliriknya. Kesuksesan terbesar dalam kariernya sejauh ini datang ketika Manchester United meminangnya pada musim panas 2023. Dengan nilai transfer mencapai £72 juta, Højlund langsung memikul ekspektasi besar. Meski sempat kesulitan di Premier League pada awalnya.

Usianya Yang Masih 20 Tahun, Nilai Transfer Yang Fantastis, Dan Label “Striker Masa Depan” Membuat

Maka kemudian dari pada itu musim panas 2023, Rasmus Højlund tiba di Manchester United dengan sambutan meriah. Usianya Yang Masih 20 Tahun, Nilai Transfer Yang Fantastis, Dan Label “Striker Masa Depan” Membuat banyak pihak percaya bahwa ia akan menjadi pilar utama lini serang Setan Merah selama bertahun-tahun. Namun, dua musim berselang, narasi itu mulai goyah.

Musim debutnya sebenarnya berjalan menjanjikan. Meski lambat panas di Premier League, Højlund membukukan 16 gol di semua kompetisi. Maka kemudian dari pada itu termasuk lima gol di Liga Champions. Catatan tersebut membuatnya menjadi salah satu penyerang muda paling di perbincangkan di Eropa. Puncaknya, ia membantu MU meraih Piala FA 2024 trofi besar pertama dalam kariernya.

Namun, musim 2024/25 justru membawa tantangan besar. Dalam 32 laga Premier League, Højlund hanya mampu mencetak empat gol. Bahkan, ada periode di mana ia tak melepaskan satu pun tembakan dalam beberapa pertandingan. Statistik ini memicu kritik pedas, terutama karena MU mengeluarkan biaya besar untuk merekrutnya. Situasi semakin rumit ketika klub mendatangkan striker baru seperti Benjamin Šeško dan Matheus Cunha, yang langsung mengancam posisinya di tim utama.

Rumor transfer pun mulai beredar. Beberapa media menyebut AC Milan tertarik meminjam Højlund dengan opsi pembelian permanen, sementara Bayern Munich juga di kabarkan memantau situasinya. Persimpangan karier yang di hadapi Højlund kini jelas. Maka kemudian dari pada itu bertahan di Manchester United dan berjuang merebut kembali tempatnya, atau mencari peluang baru di klub lain demi mendapatkan menit bermain yang konsisten. Pilihan pertama berarti ia harus bekerja ekstra keras meningkatkan ketajaman. Maka kemudian dari pada itu adaptasi terhadap sistem baru pelatih Rúben Amorim Rasmus Højlund.