Intermitent Fasting

Intermitent Fasting Bukan Solusi Untuk Semua Orang

Intermitent Fasting (IF) Atau Puasa Berselang-Seling Menjadi Salah Satu Pola Makan Paling Populer Di Dunia Dalam Beberapa Tahun Terakhir. Banyak orang mencoba metode ini untuk mengelola berat badan, meningkatkan metabolisme, atau mendukung kesehatan secara umum. Namun, di balik popularitasnya, para ahli mengingatkan bahwa Intermitent Fasting tidak cocok untuk semua orang dan masih menyimpan potensi risiko tersembunyi yang patut dipahami sebelum mencobanya.

Intermitent Fasting bukan diet dalam arti tradisional, melainkan sebuah pola makan yang membatasi waktu makan dalam periode tertentu setiap hari. Contoh yang paling umum adalah metode 16/8, yang berarti berpuasa selama 16 jam dan makan hanya dalam jendela 8 jam. Pola lain termasuk metode 5:2 atau bahkan OMAD (One Meal A Day) di mana seseorang hanya makan satu kali dalam sehari.

Banyak orang mengklaim bahwa IF dapat membantu menurunkan berat badan, meningkatkan sensitivitas insulin, hingga mendukung proses perbaikan sel tubuh. Namun, bukan berarti strategi ini cocok atau aman untuk semua orang.

Risiko Tersembunyi yang Perlu Di waspadai

  1. Risiko Kesehatan Jantung

Salah satu kekhawatiran besar adalah masalah kesehatan jantung. Studi besar di Amerika Serikat yang melibatkan hampir 20.000 orang menemukan bahwa individu yang membatasi makan dalam jendela kurang dari delapan jam per hari memiliki risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular lebih dari dua kali lipat di banding mereka yang makan dalam jendela 12–14 jam per hari. Kondisi ini menunjukkan bahwa praktik IF yang sangat ketat bisa membawa konsekuensi jangka panjang bagi kesehatan jantung jika tidak di lakukan dengan benar.

  1. Gangguan Nutrisi dan Metabolisme

Puasa dalam periode waktu yang sangat panjang dapat menyebabkan kekurangan nutrisi apabila seseorang tidak menyusun menu makanannya dengan baik. Mengonsumsi makanan padat nutrisi dalam waktu yang terbatas bisa jadi sulit, sehingga tubuh berisiko mengalami kekurangan zat penting seperti vitamin, protein, atau mineral. Hal ini juga bisa berdampak pada energi harian dan sistem imun tubuh.

Selain itu, pembatasan makan yang ekstrem bisa mengganggu metabolisme, terutama pada kelompok tertentu seperti wanita, orang lanjut usia, atau mereka yang memiliki kondisi medis mendasar. Sebuah ulasan ilmiah bahkan menunjukkan bahwa interaksi antara waktu makan, hormon, dan metabolisme masih perlu penelitian lebih lanjut.

  1. Efek Samping Fisik dan Mental

Banyak orang yang menjalankan IF melaporkan efek samping seperti:

  • Rasa lapar dan nafsu makan meningkat, terutama di fase awal IF.
  • Iritabilitas dan perubahan suasana hati akibat penurunan gula darah.
  • Gangguan pencernaan atau energi rendah pada beberapa individu.
  • Gangguan tidur dan dehidrasi jika pola makan dan asupan cairan tidak tepat.

Siapa yang Harus Hati-Hati atau Menghindari Intermitent Fasting?

Para ahli biasanya tidak merekomendasikan intermittent fasting untuk kelompok tertentu tanpa pengawasan medis, antara lain:

  • Wanita hamil atau menyusui, karena kebutuhan nutrisi mereka meningkat dan pola puasa bisa memengaruhi keseimbangan energi.
  • Orang dengan diabetes atau gangguan gula darah, karena puasa panjang dapat menyebabkan fluktuasi gula darah yang berbahaya.
  • Anak-anak dan remaja, karena masih dalam masa pertumbuhan dan membutuhkan asupan nutrisi yang konsisten.
  • Orang dengan gangguan makan atau sejarah diet ekstrem, karena pola IF bisa memperburuk hubungan dengan makanan.
  • Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi sangat di sarankan sebelum seseorang memutuskan untuk mencoba intermittent fasting, terutama jika ada kondisi kesehatan tertentu.

Memilih Pendekatan Pola Makan yang Tepat

Intermittent Fasting bisa efektif untuk sebagian orang, terutama yang sehat secara umum dan memiliki tujuan penurunan berat badan dalam konteks pola hidup seimbang. Namun, perlu diingat bahwa metode ini bukan solusi universal untuk semua orang. Setiap individu memiliki kebutuhan tubuh dan kondisi metabolik yang berbeda.

Alih-alih mengikuti tren semata, pendekatan yang paling aman adalah memilih pola makan yang di personalisasi, melibatkan banyak makanan bernutrisi, dan mempertimbangkan keseimbangan serta keberlanjutan dalam jangka panjang.