Aston Villa

Aston Villa Kalah Telak, Kini Crystal Palace Tembus Papan Tengah

Aston Villa Harus Menelan Kekalahan Menyakitkan Di Hadapan Publik Sendiri Setelah Dibungkam Crystal Palace Dengan Skor Telak 0-3 Pada Senin (1/9/2025) Di Villa Park. Hasil ini tak hanya memperpanjang tren negatif Villa, tetapi juga menegaskan kebangkitan Palace yang berhasil menembus papan tengah klasemen. Pertandingan sejatinya berlangsung dengan dominasi Aston Villa. Tim tuan rumah mencatat lebih banyak penguasaan bola, sepuluh tendangan sudut, serta 13 percobaan tembakan. Namun, dominasi tersebut tak mampu di terjemahkan menjadi gol. Sebaliknya, efektivitas menjadi senjata utama The Eagles.

Gol pertama hadir pada menit ke-21 ketika Jean-Philippe Mateta sukses mengeksekusi penalti setelah Daichi Kamada di langgar Marco Bizot di kotak terlarang. Keunggulan itu membuat Palace bermain lebih percaya diri. Memasuki babak kedua, Marc Guéhi menggandakan skor lewat tendangan keras di menit ke-68. Hanya sepuluh menit berselang, Ismaïla Sarr memastikan kemenangan dengan gol ketiga yang memanfaatkan kelengahan lini belakang Aston Villa.

Bagi Crystal Palace, kemenangan ini terasa istimewa. Selain menjadi tiga poin perdana musim ini, hasil tersebut mengangkat mereka ke peringkat delapan klasemen sementara dengan koleksi lima poin dari tiga laga. Rekor tak terkalahkan Palace atas Villa pun berlanjut hingga enam pertemuan terakhir. Sebaliknya, situasi Aston Villa kian mengkhawatirkan. Tim besutan Unai Emery terpuruk di peringkat 19 dengan hanya mengoleksi satu poin. Aston Villa yang musim lalu tampil konsisten kini harus menghadapi tekanan besar untuk segera bangkit dari zona degradasi. Kemenangan telak ini juga mengirim pesan tegas kepada para pesaing bahwa Palace siap bersaing di papan tengah Liga Primer.

Sejumlah Fans Juga Mempertanyakan Rekrutmen Musim Panas

Kekalahan 0-3 Aston Villa dari Crystal Palace di Villa Park pada 1 September 2025 tidak hanya menambah catatan buruk di awal musim, tetapi juga memicu gelombang kekecewaan dari para pendukung setia. Suporter yang memenuhi stadion terlihat meninggalkan tribun lebih awal, ekspresi kecewa jelas terpancar. Di media sosial, tagar #EmeryOut mulai bergema, menandakan keresahan sebagian fans terhadap strategi dan manajemen tim. Banyak yang menyoroti bagaimana Villa sebenarnya tampil dominan dalam penguasaan bola, namun gagal menciptakan peluang yang benar-benar berbahaya. “Kami punya 13 tembakan tapi tak satu pun berarti. Villa kehilangan tajinya,” tulis salah satu pengguna X (Twitter).

Sejumlah Fans Juga Mempertanyakan Rekrutmen Musim Panas yang di nilai belum mampu memberi dampak instan. Nama-nama anyar seperti Marco Bizot justru menjadi sorotan setelah melakukan pelanggaran yang berujung pada gol penalti Mateta. “Transfer besar tapi minim kontribusi. Villa butuh pemain yang bisa langsung mengangkat performa,” komentar seorang pendukung di forum daring.

Namun, tidak sedikit pula fans yang memilih memberi dukungan moral. Mereka menilai musim masih panjang dan tim hanya butuh satu kemenangan untuk mengembalikan kepercayaan diri. “Kami tahu Villa bisa lebih baik. Kami pernah lihat mereka bersaing di papan atas, jadi sekarang waktunya bangkit,” ujar salah seorang anggota fanbase resmi Aston Villa Supporters Trust. Di sisi lain, sebagian suporter mengingatkan manajemen klub untuk segera mengambil langkah cepat, baik dengan memperbaiki taktik, memperkuat mental pemain, ataupun melakukan rotasi. Bagi fans, yang terpenting adalah melihat adanya progres nyata agar Villa tidak terus berkutat di zona degradasi. Kekalahan dari Palace jelas menyakitkan bagi para pendukung.

Pelatih Aston Villa, Unai Emery, Tak Bisa Menyembunyikan Kekecewaannya

Pelatih Aston Villa, Unai Emery, Tak Bisa Menyembunyikan Kekecewaannya setelah timnya di bungkam Crystal Palace dengan skor 0-3 di Villa Park, Senin (1/9/2025). Kekalahan itu membuat Villa terperosok ke posisi 19 klasemen sementara Liga Primer Inggris dengan hanya satu poin dari tiga laga awal musim. Seusai pertandingan, Emery menyampaikan evaluasi terbuka mengenai performa timnya. “Kami sangat kecewa, terutama karena bermain di kandang. Fans berhak mendapatkan hasil yang lebih baik. Kami menguasai pertandingan, tetapi Palace lebih efektif dalam memanfaatkan peluang,” ujar Emery dalam konferensi pers pascalaga.

Pelatih asal Spanyol itu menekankan bahwa kekalahan ini bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga mentalitas tim. Menurutnya, para pemain kurang tajam dalam penyelesaian akhir dan tidak cukup agresif saat bertahan. Emery mengakui bahwa lini belakang terlalu mudah di tembus, terlihat dari tiga gol yang bersarang ke gawang Villa dalam skema yang relatif sederhana.

“Kami harus lebih solid. Kebobolan lewat penalti, kemudian kehilangan konsentrasi saat bola mati, dan akhirnya tertinggal lebih jauh lewat serangan cepat. Itu semua adalah kesalahan yang bisa di hindari,” jelasnya. Meski begitu, Emery menolak untuk menyalahkan individu. Ia lebih memilih menekankan tanggung jawab kolektif. “Saya tidak akan menunjuk satu pemain. Kekalahan ini adalah tanggung jawab tim dan juga saya sebagai pelatih,” tambahnya.

Mengenai tekanan dari fans yang mulai menunjukkan rasa frustrasi, Emery menegaskan dirinya tetap fokus untuk membangkitkan Villa. Ia memahami kekecewaan suporter, tetapi menegaskan bahwa musim masih panjang. “Kami akan belajar dari kekalahan ini. Kami butuh kemenangan pertama untuk membalikkan situasi, dan saya percaya tim ini punya kualitas untuk melakukannya,” ucap mantan pelatih Villarreal itu.

Crystal Palace Tampil Dengan Strategi Yang Sederhana Namun Sangat Efektif

Crystal Palace Tampil Dengan Strategi Yang Sederhana Namun Sangat Efektif saat menghadapi Aston Villa pada 1 September 2025. Walau kalah dalam penguasaan bola, The Eagles memaksimalkan setiap peluang dengan permainan yang di siplin dan efisien. Pelatih Palace menginstruksikan lini belakang untuk menjaga blok pertahanan rendah dengan rapat. Duet bek tengah Marc Guéhi dan Maxence Lacroix menjadi kunci, mampu memutus aliran serangan Villa yang sering mencoba menembus lewat sayap. Disiplin dalam menjaga posisi membuat Villa kesulitan menciptakan peluang bersih meski mendominasi bola.

Palace mengandalkan transisi cepat setiap kali merebut bola. Daichi Kamada yang beroperasi di lini tengah memainkan peran vital sebagai penghubung, mengalirkan bola langsung ke lini serang. Strategi ini terbukti efektif saat Kamada memaksa kiper Villa, Marco Bizot, melakukan pelanggaran di kotak penalti—berbuah gol pertama lewat eksekusi Jean-Philippe Mateta. Alih-alih membangun serangan panjang, Palace memilih langsung menusuk dengan sedikit sentuhan. Mateta sebagai target man berfungsi membuka ruang, sementara Ismaïla Sarr memanfaatkan kecepatan untuk menusuk sisi sayap. Gol ketiga Palace lahir dari skema ini, ketika Sarr berhasil menyambar umpan cepat dari Lacroix.

Selain serangan balik, Palace juga memanfaatkan momentum bola mati. Gol Marc Guéhi di menit ke-68 tercipta dari situasi bola rebound yang dimanfaatkan dengan penyelesaian klinis. Mereka tidak menekan secara konstan, melainkan memilih momen tertentu untuk melakukan pressing tinggi membuat Villa kehilangan ritme permainan. Kemenangan ini juga di topang oleh mentalitas solid. Meski bermain sebagai tim tamu, Palace tetap sabar menunggu momen. Tidak panik saat di tekan, dan setiap pemain menjalankan tugas taktis sesuai arahan Aston Villa.