Irfan Prasatya

Irfan Prasatya, Maraton Usia 60, Menepis Batasan Usia & Cedera

Irfan Prasatya Muncul Sebagai Sebuah Inspirasi Yang Membuktikan Bahwa Usia Bukanlah Halangan Untuk Terus Bergerak. Apalagi mencapai prestasi dalam olahraga ketahanan seperti maraton. Di usia yang kini sudah 60 tahun, Irfan tetap aktif menapaki lintasan panjang marathon. Menghadapi tantangan fisik yang sering kali dianggap “bukan untuk orang tua”.

Titk Balik di Usia 46: Menghadapi Saraf Kejepit

Perjalanan Irfan Prasatya menuju kehidupan sebagai pelari usia matang tidaklah mulus. Ia mengaku titik baliknya terjadi ketika berusia 46 tahun, saat ia di diagnosis menderita Hernia Nukleus Pulposus (HNP). Kondisi yang sering di kenal sebagai saraf kejepit yang menyebabkan rasa nyeri hebat dan keterbatasan gerak.

Banyak orang di posisi tersebut memilih berhenti dari aktivitas fisik berat atau bahkan menjalani operasi besar untuk mengatasi masalah tersebut. Namun bagi Irfan Prasatya, kondisi itu justru menjadi momentum refleksi: bukan sekadar untuk sembuh, tetapi untuk “mendefinisikan ulang” apa arti kesehatan dan gerak dalam hidupnya. “Saya sadar bahwa tubuh ini bukan sesuatu yang tak bisa di perbaiki. Saya ingin membuktikan bahwa dengan disiplin dan pola latihan yang tepat, tubuh bisa di ajak bekerja sama,” ujarnya dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Kompas.

Irfan Prasatya Berlatih Lari Maraton Di Usia 60 Bukan Sekadar Tantangan Fisik

Irfan Prasatya Berlatih Lari Maraton Di Usia 60 Bukan Sekadar Tantangan Fisik, tetapi juga mental. Ia rutin menjalani latihan harian yang mencakup kombinasi lari jarak pendek, latihan kekuatan (strength training), dan pemulihan — yang kini menjadi prinsip penting dalam pelatihan maraton modern untuk mencegah cedera dan menjaga ketahanan tubuh. Para ahli kebugaran merekomendasikan bahwa kekuatan otot yang baik dan jadwal istirahat yang memadai merupakan komponen penting agar pelari tetap bisa berlatih dalam jangka panjang.

Irfan juga menekankan pentingnya pola makan sehat, hidrasi yang cukup, dan waktu tidur berkualitas sebagai bagian dari rutinitas pelari lansia. “Ini bukan lagi soal kecepatan,” kata Irfan, “tapi soal kelangsungan, konsistensi, dan keharmonisan antara tubuh dan pikiran.”

Komunitas Lari Di Indonesia Terus Berkembang

Komunitas Lari Di Indonesia Terus Berkembang, termasuk di kalangan pelari usia lebih dewasa. Klub-klub lari kini tidak hanya menjadi tempat latihan, tetapi juga ruang sosial yang saling mendukung anggota untuk mencapai target kebugaran mereka. Fenomena ini tercermin dalam pertumbuhan signifikan komunitas lari dalam beberapa tahun terakhir, bahkan di kalangan pelari 50 tahun ke atas yang tetap serius mengikuti kompetisi maraton.

Bagi Irfan, dukungan komunitas ini justru menjadi salah satu faktor utama yang membuatnya tetap termotivasi. “Kalau saya sendirian, mungkin saya berhenti pada masa pemulihan cedera dulu,” katanya. “Tapi ketika teman-teman di komunitas berkata ‘kamu bisa’, itu memotivasi saya untuk terus turun ke lintasan.”

Dampak Positif bagi Kesehatan dan Mental Lansia

Kisah Irfan juga menunjukkan sisi lain dari aktivitas lari maraton: manfaat kesehatan yang signifikan bagi lansia. Olahraga teratur, terutama kardio seperti lari, terbukti membantu menjaga sirkulasi darah. Kemudian mengontrol tekanan darah, menstimulasi produksi endorfin (hormon kebahagiaan). Serta memperbaiki kualitas tidur dan suasana hati secara keseluruhan.

Selain itu, keterlibatan dalam komunitas olahraga juga membawa manfaat sosial dan mental, yaitu mengurangi rasa kesepian dan meningkatkan rasa kebersamaan, yang kerap menjadi tantangan bagi lansia.

Irfan Membuktikan Satu Hal Utama: Usia 60 Bukan Akhir Dari Kemampuan Fisik

Kini, Irfan tidak hanya sekadar menyelesaikan maraton; ia menjadi contoh hidup bahwa olahraga bisa menjadi bagian integral dari kehidupan di setiap usia. “Saya harap cerita saya bisa menjadi inspirasi bahwa kita tidak harus berhenti berusaha hanya karena angka usia,” ujarnya.

Dengan disiplin, dukungan, dan semangat komunitas, Irfan Membuktikan Satu Hal Utama: Usia 60 Bukan Akhir Dari Kemampuan Fisik. Tetapi pintu menuju tantangan baru yang bisa dijalani dengan penuh semangat dan kebanggaan.