
Rumah Uya Kuya Dijarah: Amarah Massa Akibat Jogetannya Viral!
Rumah Uya Kuya Dijarah Suasana Di Kawasan Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, Mendadak Mencekam!, Begini Kondisinya Di Lapangan. Ratusan orang mendatangi rumah milik anggota DPR sekaligus selebritas Uya Kuya. Massa yang terbakar emosi kemudian menerobos masuk, merusak pagar, hingga melakukan penjarahan terhadap berbagai barang di dalam rumah. Insiden ini dengan cepat menjadi sorotan nasional, bukan hanya karena skala kerusakan, tetapi juga karena nuansa politik yang melingkupinya.
Dalam sejumlah video yang viral di media sosial, terlihat jelas bagaimana kursi, televisi, hingga perabot rumah tangga lain di angkut keluar rumah. Bahkan kucing peliharaan Uya Kuya pun ikut di ambil oleh massa. Suara kaca pecah dan pintu yang di dobrak menambah dramatisasi situasi, memperlihatkan bagaimana amarah publik berubah menjadi aksi anarkis Rumah Uya.
Peristiwa ini tidak muncul begitu saja. Beberapa hari sebelumnya, sebuah video lama Uya Kuya yang sedang berjoget dalam Sidang Tahunan MPR kembali beredar di media sosial. Potongan video tersebut di pelintir dengan narasi bahwa aksi joget Uya berkaitan dengan isu kenaikan gaji DPR sebesar Rp 3 juta. Meski Uya sudah meluruskan kabar itu sebagai hoaks, sentimen publik telanjur membesar.
Massa yang merasa terprovokasi kemudian menjadikan Rumah Uya sebagai simbol kekecewaan mereka terhadap wakil rakyat. Situasi ini memperlihatkan bagaimana ketidakpuasan politik bisa bertransformasi menjadi tindakan nyata yang merugikan pihak lain. Dalam keterangannya, Uya Kuya menyatakan bahwa ia menerima kejadian ini dengan ikhlas. Ia menegaskan bahwa keluarganya dalam keadaan selamat, meski tidak bisa menyembunyikan kesedihan karena hewan peliharaannya ikut menjadi korban penjarahan. “Makhluk hidup di jarah, itu yang paling bikin saya sedih,” ucapnya.
Warganet Yang Mengekspresikan Kemarahan
Peristiwa penjarahan rumah Uya Kuya sontak memicu gelombang reaksi dari warganet di berbagai platform media sosial. Seperti biasa, publik digital terbagi dalam dua kubu besar: mereka yang menyampaikan simpati kepada Uya dan keluarganya, serta mereka yang justru menilai kejadian ini sebagai konsekuensi dari sikap seorang pejabat publik.
Di satu sisi, banyak warganet menyuarakan keprihatinan atas tindak anarkis massa. Mereka menilai bahwa meskipun publik memiliki hak untuk mengkritik, penjarahan bukanlah solusi. Sejumlah komentar menegaskan bahwa aksi massa tersebut justru merugikan masyarakat luas karena mengaburkan substansi kritik politik. “Marah boleh, kecewa boleh, tapi menjarah rumah pribadi orang itu sudah kelewatan,” tulis salah satu pengguna X (Twitter). Tidak sedikit pula yang mengaitkan insiden ini dengan lemahnya literasi digital, di mana sebuah hoaks mampu dengan cepat mengobarkan kemarahan kolektif.
Namun, di sisi lain, ada pula Warganet Yang Mengekspresikan Kemarahan dan menyebut insiden tersebut sebagai “peringatan” bagi wakil rakyat. Mereka menilai video joget Uya Kuya di sidang MPR, meskipun sudah di klarifikasi, tetap menunjukkan sikap yang tidak pantas bagi seorang pejabat publik. Komentar bernada sarkastis pun beredar luas, menyindir bahwa kejadian ini adalah “buah dari kelalaian menjaga etika di depan rakyat.” Kelompok ini melihat penjarahan bukan hanya sebagai tindak kriminal, melainkan manifestasi ketidakpuasan yang selama ini menumpuk di masyarakat. Menariknya, ada pula warganet yang menyoroti sisi humanis dari peristiwa ini. Banyak yang merasa iba ketika mendengar bahwa kucing peliharaan Uya Kuya ikut menjadi korban penjarahan. Unggahan-unggahan yang menyinggung soal kucing tersebut viral di TikTok dan Instagram, dengan narasi bahwa “bahkan hewan pun tidak luput dari amarah massa.”
Insiden Penjarahan Rumah Uya Kuya Di Kawasan Pondok Bambu Bukanlah Peristiwa Yang Muncul Begitu Saja
Insiden Penjarahan Rumah Uya Kuya Di Kawasan Pondok Bambu Bukanlah Peristiwa Yang Muncul Begitu Saja. Ada beberapa faktor yang saling berkaitan hingga akhirnya massa turun ke jalan dan melakukan tindakan anarkis. Pertama, pemicu utama berasal dari video lama Uya Kuya saat berjoget dalam Sidang Tahunan MPR yang kembali beredar di media sosial. Potongan video itu di beri narasi menyesatkan, seolah-olah joget tersebut merupakan perayaan atas kenaikan gaji anggota DPR sebesar Rp 3 juta. Meski Uya sudah melakukan klarifikasi bahwa informasi tersebut adalah hoaks, sentimen publik terlanjur terbakar. Banyak masyarakat merasa tersinggung karena aksi tersebut di anggap tidak pantas di tengah kondisi ekonomi rakyat yang sulit.
Kedua, mudahnya hoaks menyebar dan di pelintir di media sosial menjadi bensin yang menyulut amarah publik. Informasi yang sepotong, tanpa konteks, beredar luas dan di terima begitu saja oleh sebagian masyarakat. Dalam hitungan jam, video joget itu viral dan menjadi bahan kecaman. Pola penyebaran hoaks ini kembali membuktikan lemahnya literasi digital di Indonesia, yang membuat opini publik mudah di mobilisasi.
Ketiga, ketidakpercayaan masyarakat terhadap wakil rakyat juga menjadi latar belakang kuat. Selama ini, banyak kebijakan DPR yang di nilai tidak berpihak kepada rakyat. Situasi itu membuat figur publik yang berstatus anggota DPR lebih rentan menjadi sasaran amarah kolektif. Dalam kasus Uya Kuya, rumahnya menjadi simbol nyata tempat masyarakat melampiaskan kekecewaan terhadap elit politik.
Keempat, emosi massa yang tidak terkendali. Begitu kerumunan terbentuk, psikologi massa bekerja. Satu tindakan agresif seperti merusak pagar atau mengambil barang bisa segera di ikuti oleh yang lain. Kondisi ini membuat aksi spontan berubah menjadi penjarahan massal.
Menurut Pihak Kepolisian, Penjarahan Yang Terjadi Berlangsung Sangat Cepat.
Pihak kepolisian menanggapi serius peristiwa penjarahan rumah milik Uya Kuya di kawasan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Kapolres Metro Jakarta Timur dalam keterangannya menyatakan bahwa insiden tersebut merupakan tindak pidana murni yang tidak bisa di benarkan dengan alasan apa pun, termasuk sentimen politik maupun kekecewaan publik terhadap wakil rakyat. Polisi menegaskan, setiap bentuk penjarahan dan perusakan aset pribadi adalah pelanggaran hukum yang harus di tindak secara tegas.
Menurut Pihak Kepolisian, Penjarahan Yang Terjadi Berlangsung Sangat Cepat. Massa yang awalnya hanya berkumpul untuk menyuarakan aspirasi, tiba-tiba berubah menjadi anarkis setelah sebagian orang mulai merusak pagar rumah. Situasi semakin sulit di kendalikan karena jumlah massa yang besar dan emosi yang tinggi. Meski demikian, polisi menekankan bahwa tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, dan keluarga Uya Kuya di pastikan dalam keadaan aman.
Dalam penyelidikannya, kepolisian mengidentifikasi bahwa provokasi di media sosial memiliki peran besar dalam menggerakkan massa. Video lama Uya Kuya yang di pelintir dan di beri narasi menyesatkan di sebut sebagai salah satu pemicu utama. Oleh karena itu, polisi juga menggandeng tim siber untuk melacak penyebar hoaks yang di anggap bertanggung jawab memanaskan situasi. “Kami tidak hanya fokus pada pelaku lapangan, tetapi juga pada aktor digital yang menyebarkan informasi palsu sehingga memicu kerusuhan,” ujar perwakilan Polda Metro Jaya. Polisi berjanji akan mengusut tuntas kasus ini dengan dua jalur: pertama, memproses pelaku penjarahan yang terekam dalam video viral; kedua, menindak tegas pihak-pihak yang menyebarkan hoaks dan menghasut massa. Sejumlah barang bukti berupa rekaman CCTV, video amatir warga, serta laporan kerugian dari pihak Uya Kuya telah di kumpulkan untuk memperkuat penyidikan Rumah Uya.