
Reformasi Gagal? Anwar Ibrahim Dihadapkan Pada Tekanan Publik
Reformasi Yang Gagal Dari Janji Manis Yang Dulu Mengiringi Langkah Anwar Ibrahim Menuju Kursi Perdana Menteri Malaysia Kini Berubah. Ribuan warga turun ke jalan dalam aksi demonstrasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir, menuntut agar Anwar segera mengundurkan diri dari jabatannya. Seruan “Turun, Anwar!” bergema di berbagai titik ibu kota, mencerminkan krisis kepercayaan yang semakin menguat di tengah masyarakat. Anwar Ibrahim, sosok yang dulunya menjadi simbol harapan reformasi dan pembaruan politik Malaysia, kini menghadapi kritik tajam. Banyak warga menilai pemerintahannya gagal memenuhi janji-janji utama, terutama dalam hal transparansi, pemberantasan korupsi, dan perlindungan ekonomi rakyat kecil. Harapan rakyat untuk perubahan sistemik perlahan-lahan berubah menjadi kekecewaan.
Demonstrasi yang terjadi pada 26 Juli 2025 bukan sekadar reaksi emosional. Akar dari kegeraman publik terletak pada berbagai kebijakan ekonomi yang di nilai memberatkan, seperti kenaikan pajak layanan dan barang (SST), tarif listrik yang melonjak, serta pengurangan subsidi bahan bakar. Di tengah tekanan inflasi dan tingginya biaya hidup, keputusan pemerintah di anggap tidak berpihak pada rakyat kecil Reformasi.
Di sisi lain, publik juga mencermati indikasi adanya campur tangan politik dalam sistem hukum, termasuk penundaan pengangkatan hakim dan penghapusan dakwaan terhadap beberapa tokoh politik yang dekat dengan kekuasaan. Hal ini memunculkan kekhawatiran akan kembalinya praktik-praktik lama yang dulu ingin di hapuskan oleh gerakan reformasi. Menanggapi gelombang unjuk rasa, Anwar Ibrahim mengumumkan sejumlah kebijakan populis seperti bantuan tunai langsung dan penurunan harga bahan bakar RON95. Namun langkah ini justru menuai kritik sebagai bentuk panik politik, bukan solusi jangka panjang. Para ekonom menilai langkah tersebut tidak cukup untuk mengembalikan kepercayaan publik yang sudah terlanjur goyah Reformasi.
Cermin Keresahan Rakyat Terhadap Arah Pemerintahan Saat Ini
Demonstrasi yang mengguncang Kuala Lumpur pada 26 Juli 2025 bukan hanya menjadi momen politik, tapi juga Cermin Keresahan Rakyat Terhadap Arah Pemerintahan Saat Ini. Ribuan warga dari berbagai latar belakang sosial turun ke jalan dengan satu tuntutan yang sama: Anwar Ibrahim harus mundur. Tanggapan publik terhadap momen ini pun beragam, mulai dari dukungan penuh hingga sikap kritis dan netral. Salah satu suara yang paling banyak di gaungkan di lapangan adalah keluhan terhadap tingginya biaya hidup. Seorang demonstran bernama Hafiz, sopir taksi berusia 41 tahun, mengaku kecewa berat. “Dulu kami percaya pada janji Anwar bahwa dia akan bela rakyat. Sekarang harga listrik naik, subsidi di potong, pajak tambah banyak. Kami yang susah makin di tekan,” ujarnya sambil menunjukkan poster bertuliskan Turun Anwar!
Kekecewaan serupa juga di sampaikan oleh Aina, seorang ibu rumah tangga dari Selangor. Ia menyoroti bagaimana bahan kebutuhan pokok melonjak drastis sejak awal 2024. “Saya tidak butuh bantuan RM100 sesaat, saya butuh kestabilan harga dan masa depan anak-anak saya,” ujarnya penuh emosi.
Kalangan Muda: Harapan yang Pupus
Kelompok muda yang dulu menjadi pendukung kuat Anwar pun kini mulai goyah. Banyak dari mereka menilai reformasi yang di janjikan tidak berjalan sesuai ekspektasi. Di media sosial seperti X (dulu Twitter) dan TikTok, tagar #TurunAnwar dan #ReformasiTipu sempat menjadi trending. Para aktivis muda menganggap Anwar terlalu kompromistis dengan elite lama dan terlalu lamban dalam menjalankan agenda reformasi hukum.
“Ini bukan reformasi, ini kompromi politik,” tulis salah satu pengguna X dengan akun @SuaraMahasiswa.
Masyarakat Netral dan Kritis: Tak Semua Ingin Mundur, tapi Harus Berubah
Meski demikian, tidak semua warga mendukung Anwar untuk segera mundur.
Tekanan Publik Dan Oposisi Terus Meningkat Untuk Melakukan Reformasi
Di tengah gelombang unjuk rasa yang menuntut pengunduran dirinya, Perdana Menteri Anwar Ibrahim dan kabinetnya berusaha melakukan manuver untuk meredam ketegangan. Pemerintah bergerak cepat dengan sejumlah kebijakan populis, namun upaya tersebut di nilai banyak pihak belum cukup menyentuh akar permasalahan. Tekanan Publik Dan Oposisi Terus Meningkat Untuk Melakukan Reformasi menjadikan Anwar berada dalam posisi paling genting sejak menjabat pada November 2022. Dalam konferensi pers yang di gelar tiga hari sebelum demonstrasi besar-besaran, Anwar mengumumkan pemberian bantuan tunai sebesar RM100 kepada setiap warga dewasa Malaysia. Bantuan ini di sebut sebagai “bantuan keprihatinan sementara” yang akan di salurkan mulai Agustus 2025. Selain itu, harga bensin RON95 di pangkas menjadi RM1.99 per liter dari harga sebelumnya RM2.05, sebuah langkah yang di klaim akan meringankan beban masyarakat.
Namun, banyak pengamat melihat langkah ini sebagai reaksi panik ketimbang strategi jangka panjang. “Bantuan sekali bayar tidak menyelesaikan masalah sistemik yang selama ini di tunda-tunda,” kata Prof. Rosli Mahmood, ekonom dari Universiti Kebangsaan Malaysia. “Ini hanya meredakan gejolak sesaat.”
Anwar juga menggelar sesi tanya jawab publik secara daring, membela kebijakan pemerintah dan menegaskan bahwa “reformasi membutuhkan waktu dan ketahanan.” Ia menyebut bahwa pemerintahnya tengah berjuang menstabilkan fiskal negara sambil menghadapi tekanan global seperti ketidakpastian ekonomi dan harga komoditas. Namun, nada komunikasinya di nilai terlalu defensif. Beberapa media mencatat bahwa Anwar lebih banyak menyalahkan faktor eksternal ketimbang mengakui kelemahan internal pemerintahannya. Hal ini memicu kritik, terutama dari masyarakat sipil yang mengharapkan transparansi dan kepemimpinan yang lebih proaktif.
Di Kalangan Elite Politik Sendiri, Masa Depan Anwar Menjadi Topik Hangat
Krisis kepercayaan yang kini menerpa Perdana Menteri Anwar Ibrahim menjadi titik balik penting dalam karier politiknya yang panjang dan penuh liku. Dari tokoh reformasi yang di sanjung hingga kini menjadi pusat kritik tajam, Anwar menghadapi pertanyaan besar: apakah ia masih mampu menjadi pemimpin perubahan, atau akan menjadi bagian dari lingkaran kepemimpinan yang gagal menepati janji?
Gelombang demonstrasi yang terjadi baru-baru ini bukan hanya tentang harga kebutuhan pokok atau kenaikan tarif listrik. Ini tentang harapan yang di khianati. Anwar naik ke tampuk kekuasaan dengan mandat moral—membawa semangat reformasi, memulihkan integritas lembaga hukum, dan membela nasib rakyat kecil. Namun, sebagian besar masyarakat kini merasa tertinggal dan kecewa.
Meski demikian, belum semua harapan padam. Banyak pihak melihat bahwa Anwar masih memiliki peluang untuk membalikkan keadaan, asalkan ia mengambil langkah tegas dan transformatif. Para analis politik menyarankan agar ia tidak lagi bermain aman dengan kebijakan populis semata, melainkan berani melakukan reformasi struktural yang menyentuh akar persoalan: korupsi, ketimpangan ekonomi, dan akuntabilitas pemerintahan.
Di Kalangan Elite Politik Sendiri, Masa Depan Anwar Menjadi Topik Hangat. Sebagian anggota koalisi pemerintah mulai menunjukkan keraguan, khawatir elektabilitas mereka tergerus jika terus mendukung pemimpin yang di anggap gagal merespons tuntutan rakyat. Di sisi lain, oposisi tengah merancang strategi untuk menantang kepemimpinan Anwar, baik melalui jalur politik maupun opini publik.
Yang menjadi pertaruhan saat ini bukan sekadar posisi perdana menteri, tetapi arah masa depan Malaysia. Jika Anwar tetap mempertahankan pendekatan defensif dan tambal-sulam, ia bisa jadi akan menyusul jejak para pemimpin sebelumnya yang tumbang karena kehilangan kepercayaan rakyat Reformasi.